Aksi Nyata "Filosofi ki Hajar Dewantara"

AKSI NYATA Cikgu Titien


"Filosofi Ki Hajar Dewantara"


Ditulis oleh: Titien Suprihatien


Pembelajaran Aktif yang Berpusat pada Murid sebagai aktualisasi Filosofi Ki Hajar Dewantara

Ini adalah salah satu proses pembelajaran di kelas saya, saya memfasilitasi murid saat belajar membuat kamera obscura.




Murid bukanlah kertas kosong. Murid adalah anak didik kita yang memiliki bekal pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman mereka sendiri. Kita sebagai guru tidak bertugas untuk mengisi kertas kosong, tetapi tugas kita adalah menebalkan goresan yang sudah mengisi lembaran kertas tersebut.

Jadi,
tentu saja tugas kita bukan mengisi pikiran murid dengan memberikan informasi-informasi melalui ceramah kita. Namun, sesungguhnya peran kita adalah membantu mereka untuk memahami dan memanfaatkan pengetahuan yang mereka miliki. 

Bagaimana caranya?
Salah satu caranya adalah dengan mendesain pembelajaran aktif dengan model pembelajaran yang student center seperti  discovery learning, problem based learning, atau bisa juga project based learning.

Tugas kita mendesain pembelajaran, setelah itu biarkan mereka belajar sendiri, berkolaborasi, berdiskusi sementara kita memfasilitasi dan memberikan umpan balik.













Saya bahagia bisa memfasilitasi pembelajaran yang sesuai dengan dunia mereka, karena sebagai guru kita harus memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman. Banyak ide pembelajaran yang ingin saya implementasikan di kelas.

Praktik baik yang sudah saya lakukan senantiasa saya share kepada teman-teman yang lain baik di dunia nyata atau juga di dunia maya agar bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja.

Saya belajar banyak dari pemikiran Ki Hajar Dewantara, bagaimana guru itu harus:

 “Ing Ngarso Sung Tulodo” berarti dalam posisi di depan harus menjadi teladan. Ini mengingatkan saya bahwa sebagai seorang pendidik, saya harus selalu berperilaku dan bertindak secara positif karena siswa akan melihat dan meniru perilaku saya. Seorang guru harus menjadi role model yang baik dalam segala aspek, baik dalam hal pengetahuan, sikap, maupun perilaku.

 “Ing Madyo Mangun Karso” berarti di tengah harus bisa membangun semangat. Ini memberikan pemahaman bahwa seorang guru harus mampu memotivasi dan menginspirasi siswa untuk belajar dan berkembang. Guru harus mampu membangkitkan semangat belajar siswa dan membantu mereka untuk mencapai potensi terbaik mereka.

 “Tut Wuri Handayani” berarti di belakang harus memberikan dorongan dan dukungan. Ini mengajarkan saya bahwa tugas seorang guru tidak hanya mengajar di depan kelas, tetapi juga mendukung dan mendorong siswa dalam proses belajar mereka. Guru harus selalu siap untuk membantu dan mendukung siswa, baik secara akademik maupun emosional. Filosofi Ki Hajar Dewantara mengajarkan saya tentang pentingnya peran guru dalam membentuk karakter dan masa depan siswa. Ini juga mengingatkan saya bahwa menjadi guru bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang menjadi teladan, motivator, dan pendukung bagi siswa. sekali lagi guru adalah role model, contoh dari segala kebaikan.

Guru adalah pembelajar yang tidak boleh berhenti belajar. Salah satu sumber belajar bagi guru adalah guru yang lainnya. Seorang guru yang baru saya menyelesaikan pendidikannya tentu akan memiliki banyak ilmu yang terbaru. Karena di bangku kuliah mereka akan mempelajari banyak teori-teori pendidikan. Apakah itu cukup untuk digunakan terjun nyata ke sekolah-sekolah? Sebagian individu merasa cukup, tetapi sebagian yang lain belum. Salah satu cara untuk menambah kompetensi dan menguatkan mental kita pendidik, maka guru harus saling belajar.


Terima Kasih

 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Model dan Evaluasi Pembelajaran

Koneksi Antar Materi Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.4 Disiplin Positif