Guru saat Ini dan Impian Setelah Tiga Tahun Menjadi Guru Penggerak
Guru saat Ini dan Impian Setelah Tiga Tahun Menjadi Guru Penggerak
(Antara Realita VS Perumpamaan)
Penulis: Titien Suprihatien
Lebih dari dua puluh tahun menjadi
guru adalah waktu yang panjang bagi seorang Titien Suprihatien untuk berjuang di
dunia pendidikan. Ia konsisten menyuguhkan pembelajaran aktif di dalam setiap
pembelajarannya. Sedari dahulu ia senantiasa memadukan literasi dan numerasi di
dalam pembelajaran IPA yang ia ampu. Titien juga mendokumentasikan semua
praktik baik yang sudah dilakukan dan membagikannya di sosial media. Semua itu
ia lakukan agar menjadi motivasi dan sumber inspirasi bagi orang lain.
Bagi
Titien, mengembangkan literasi bukanlah kewajiban guru bahasa saja, tetapi
semua guru harus bisa mengembangkan pembelajaran yang lebih luas agar siswa
mampu berliterasi. Literasi tidak hanya tentang kemampuan membaca dan menulis,
tetapi menggali lebih jauh dan Titien berusaha untuk itu. Ia mendesain
pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan mengenali, memahami, menafsirkan,
mencipta, berkomunikasi yang dipadu dengan kemampuan numerasi yaitu memahami,
menalar, menganalisis dan bekerja menggunakan konsep, prosedur, dan fakta.
Semenjak
tahun 2018 ia menjadi fasilitator program PINTAR Tanoto Foundation, pada program
ini Titien banyak mendapatkan kesempatan dan pengalaman. Berkat ketekunan,
perjuangan dan konsistensinya yang terekam dalam jejak digital ia terpilih
menjadi fasilitator inspiratif tingkat nasional pada tahun 2020, tahun 2022 ia
juga menjadi the best social media ambassador 2022 dan menjadi narasumber
di beberapa webinar nasional. Di tahun 2019 ia juga mendapat penghargaan
sebagai guru pengabdi lingkungan, buah dari kerja kerasnya dalam mengembangkan
pembelajaran berbasis lingkungan dan menjadi kandidat penerima kalpataru di
tahun 2020.
Titien kerap memadukan edukasi dan
sains dalam tulisannya, menulis informasi-informasi tentang kurikulum dan
pembelajaran ke dalam bentuk fiksi edukasi agar lebih enak dibaca. Guru IPA ini
tidak ingin maju sendiri, di setiap pembelajarannya ia senantiasa membiasakan
siswa untuk menuliskan laporan percobaan dalam berbagai bentuk. Salah satunya
dalam bentuk cerpen fiksi sains. Pembelajarannya juga pernah diliput oleh
jurnalis dari kompas cetak dan diangkat dalam Sosok Inspiratif di surat kabar
tersebut. Titien senantiasa membina anak didiknya untuk mengembangkan literasi.
Titien
terus belajar dan membagikan ilmu yang ia dapat kepada siapa pun yang ingin
mengembangkan diri. Bersama beberapa teman, Titien membentuk komunitas menulis
bernama MENATA, di komunitas ini ia mendampingi anggota baik siswa, guru atau
masyarakat umum yang ingin belajar menulis. Mereka menamakan gerakan literasi
ini dengan gerakan nol rupiah. Semua anggota bisa belajar dengan gratis dan
anggotanya berasal dari seluruh Indonesia serta sudah banyak yang berhasil
menerbitkan buku solo.
Di
komunitas MENATA ia dan tim juga mengajak semua guru dan siswa untuk menulis
tentang pendidikan. Di komunitas, Titien mengetahui bahwa salah satu akar
masalah dari lambatnya kemajuan literasi adalah kurangnya minat baca dan
minimnya kemampuan menulis dan berkomunikasi. Bahkan di beberapa kasus Titien
menemukan kurangnya kompetensi guru terkait dalam penguasaan tanda baca,
bacaan, pilihan kata dan kompetensi lainnya. Akar masalah ini harus dicabut
dengan membumikan giat literasi secara bombastis kapan saja di mana saja.
Tidak hanya
di komunitas literasi, Titien juga menjadi narasumber di komunitas guru, ia
berbagi tentang banyak hal termasuk tentang literasi dan pengembangan soal-soal
AKM yang berbasis literasi numerasi dengan tujuan untuk meningkatkan nilai
rapor pendidikan. Agar Indonesia bisa naik tingkat berdasarkan standar PISA.
Semua cara
ia lakukan dengan gigih dan terbuka, Titien ingin mengajak guru Indonesia untuk
maju bersama dengan terbuka. Menjadi hebat bukanlah tujuannya, karena ia ingin
menjadi bermanfaat untuk siapa saja. Titien terus belajar, ia tidak hanya
belajar menulis buku, tetapi ia juga merambah mempelajari bagaimana caranya
mengubah buku menjadi skenario. Ini penting karena kemajuan dunia digital
membuat siswa belajar banyak hal dengan mudah. Dan sebagai guru ia harus siap
memberikan penjelasan dan solusi dari pertanyaan siswanya. Tidak ada batas
untuk belajar karena tanpa belajar kita akan terlindas kemajuan.
Tidak
merasa cukup, di tahun 2023 ia mendaftar menjadi calon guru penggerak dan
mengikuti tahap demi tahapan pelatihan di tahun 2024. Harapannya adalah semua
ilmu yang di dapat selama pendidikan guru penggerak membuat dirinya menjadi
pribadi yang welas asih dan memegang
filosofi Ki Hajar Dewantara, yaitu “ing
ngarso sung tulodo” (pendidik memberikan teladan), “in madyo mangun karso”
(pendidik selalu berada di tengah, terus memulai dan memotivasi), dan “tut wuri
handayani” (pendidik selalu mendukung dan mendorong peserta didik untuk maju).
Menjadi guru yang terus belajar, bergerak dan menggerakkan adalah tujuannya.
Saat ini tiga tahun setelah menjadi guru penggerak,
Titien telah memiliki nilai-nilai guru penggerak secara utuh. Ia semakin
mandiri dalam memulia dan melakukan perubahan, mampu berkolaborasi lebih baik
dengan siapa saja. Terus berkarya dengan inovasi tanpa batas, tetap reflektif
dan semakin berpihak pada murid.
Komentar
Posting Komentar