Artikel Cikgu yang tayang di Kompas.com

Ini versi asli sebelum diedit editor ya😊 nanti boleh bandingkan dengan versi tayang kompas.com nya.

silakan klik link berikut:

https://edukasi.kompas.com/read/2020/05/02/101741071/hardiknas-saya-menulis-ini-dengan-tetes-air-mata?page=all

Artikel ini sudah lama ya, zaman pandemi, tetapi rapopo ya kita jadiin satu rumah biar nggak hilang ditelan masa, cie...

Hardiknas, "Saya Menulis Ini dengan Tetes Air Mata..." Kompas.com - 02/05/2020, 10:17 WIB

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Hardiknas, "Saya Menulis Ini dengan Tetes Air Mata..."", Klik untuk baca: https://edukasi.kompas.com/read/2020/05/02/101741071/hardiknas-saya-menulis-ini-dengan-tetes-air-mata?page=all.

Editor : Yohanes Enggar Harususilo

Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6

Nah yang di bawah versi asli ya


“EDUGORO”  Titipan  Solusi Para Pejuang

Penulis : Titien Suprihatien, Guru SMPN 11 Batanghari, Jambi

 

“Saya menulis dengan tetes air  mata berharap semangat juang para pahlawan lahir di setiap hati kita, Indonesia  tidak akan bisa bangkit dengan  keindividuan, sungguh bangsa ini butuh persatuan yang nyata”

 

            Dua bulan sudah bangsa ini goyah, wabah dari zat  tak kasat mata membuat Indonesia bahkan dunia mengalami demam total. Bahkan hingga 30 April 2020 juru bicara pemerintah untuk penangganan Covid 19 Achmad Yurianti mengatakan kasus positif Corona di Indonesia menembus angka 10118 pasien. Sekitar 54 % berada di kelompok usia produktif yaitu 3—59 tahun. Mobilitas tinggi membuat kelompok ini beresiko tinggi untuk tertular.

 Anak Bangsa Berbagi Tugas

Indonesia bukanlah bangsa yang cemen. Negeri ini lahir dari perjuangan dengan tetes darah sebanyak lautan. Kita diwarisi semangat gotong royong bahu membahu semenjak dahulu. Namun harus diakui warisan tak ternilai itu nyaris hilang ditelan individualisasi. Ini saatnya kita bersatu, saling bergandeng tangan, berjuang berbagi tugas sesuai bidang profesi masing-masing. Merapatkat kinerja tanpa kontak fisik disertai doa dan keyakinan.

 Edugoro (edukasi gotong royong)

Bagaimana pendidikan bisa bertahan ?

Kembali kepada persatuan, semua guru harus melakukan edukasi gotong royong. Bekerjasama tanpa membeda-bedakan segala hal.  Akan terasa berat jika pendidikan jarak jauh dilakukan sendiri-sendiri. Edugoro bagai ilmu sapu lidi. Semua guru menjalin kerjasama, menyatukan kekuatan dengan strategi sederhana. Salah satu contoh :  guru-guru dalam satu kabupaten bekerja sama membuat jadwal PJJ live di media social, memberikan materi secara bergantian. 1 tayangan pembelajaran bisa di tag ke semua kelas di setiap sekolah. 1 guru untuk semua, artinya satu orang guru yang memberikan pjj, diturunkan,  sehingga  ada 1000 lebih guru yang mengontrol pembelajaran dan hasil belajar siswanya masing masing. Demikian bisa kita lakukan bersama sebagai aktualisasi edukasi  gotong royong.

 Belajar dari alam

Alam yang terhampar luas ini adalah laboratorium maha raksasa yang tidak akan pernah habis untuk di pelajari. Setiap jengkalnya bisa dijadikan bahan ajar oleh guru semua mata pelajaran  dan  bisa dijadikan sumber belajar bagi siswa. Kuncinya adalah desain penyajian pjj dan rpp daring. Guru harus mampu merancang pjj bermakna dan bermanfaat.

Langkah-langkah mendesain pjj:

1.      Lakukan eksplorasi potensi rumah dan halaman

2.      Data sumber bahan ajar dan belajar

3.      Tentukan topik dan judul pembelajaran

4.      Rancang rpp daring dengan life skill

5.      Siapkan model/alat peraga sederhana

6.      Rencanakan waktu yang tepat untuk siswa berkarya

7.      Siapkan respon positif

 Edukasi Rasa

            Pandemi menumbuhkan rasa takut, gelisah, cemas juga was-was yangberpengaruh pada kestabilan emosi semua orang. Dan semestinya guru memiliki salah satu obat mujarab untuk mengobatinya.

 Obat tersebut adalah respon positif dan kalimat pujian, penghargaan, pengharapan atas karya karya belajar siswa. Semua guru adalah konselor. Saatnya semua guru harus mampu memilih diksi dan menggunakan bahasa kalbu. Menghargai apapun hasil karya siswa dan memberikan motivasi melalui contoh dan kebaikan. Bahasa kebaikan akan membelajarkan siswa tentang kekurangan dari hasil belajarnya. Pujian akan memotivasi siswa untuk terus berkarya, kalimat harapan akan membuat siswa tentang untuk membuktikan  bahwa mereka bisa belajar mandiri dan berkarya dengan lebih baik.

 Perbedaan kondisi

            Tidak semua siswa bisa melakukan pembelajaran jarak jauh karena keterbatasan. Dalam hal ini guru bisa meminta siswa membuat  catatan harian aktifitas belajarnya di rumah seperti : belajar memasak, mencuci, mengasuh, mencangkul, menanam dan banyak lagi pelajaran yang bisa diberikan guru sejati yang ada di setiap rumah itu ibu mereka. Guru menitipkan pesan agar para ibu mengontrol anak-anaknya untuk  menuliskan segala aktifitas belajar seperti menulis buku harian.

 Indonesia butuh guru solutif

            Ini bukan waktu untuk berdebat, bukan saatnya untuk berteori. Setiap guru harus bangkit mencari solusi. Indonesia tidak butuh guru yang hanya berkeluh kesah, karena keluh kesah hanya akan membuat gundah. Menjadi guru solutif adalah keharusan agar edugoro dapat dilakukan.

            Wabah ini membelajarkan kita tentang arti persatuan dan perjuangan beda masa, Semoga akan terseleksi pendidik pendidik unggul yang akan bisa membantu kebangkitan Indonesia.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Model dan Evaluasi Pembelajaran

Koneksi Antar Materi Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.4 Disiplin Positif

Aksi Nyata "Filosofi ki Hajar Dewantara"